QIRO’AH MUWAHHADAH
Qiro ah masyhuroh adalah qiro ah/bacaan yang diriwayatkan oleh Imam Hafs ‘an ‘Ashim, disebut dengan qiro ah masyhuroh, karena riwayat Hafs ini adalah yang masyhur (terkenal/banyak digunakan) oleh kalangan umat Islam di penjuru dunia. Qiro ah muwahhadah adalah qiro ah/bacaan yang diajarkan oleh KH. M. Yusuf Masyhar (pendiri Madrasatul Qur an Tebuireng) pada santri-santrinya sebagai standar bacaan yang mengacu pada qiro’ah yang diriwayatkan oleh Hafs an ‘Ashim.
Pasal I
Pengertian Ilmu Tajwid
A. Pengertian Tajwid Tajwid menurut bahasa adalah at-Tahsin (memperbaiki). Sedangkan menurut istilah adalah Ilmu yang mempelajari cara mengucapkan huruf-huruf Al Qur an yang meliputi sifat, makhroj dan ahkamul huruf. B. Kegunaan Ilmu Tajwid Kegunaan dari mempelajari Ilmu Tajwid adalah : 1. Agar tidak ada kesalahan dalam membaca ayat-ayat Allah (Al Qur an) 2. Agar aya-ayat yang kita baca, baik cara pengucapan huruf, sifat-sifat huruf sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahli Qurro. C. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid Hukum mempelajari ilmu Tajwid adalah fardu kifayah, sedang mengamalkannya adalah fardlu ain bagi setiap orang yang membaca Al Qur an. Sesuai dengan ayat Al Qur an surat Al Baqarah 121 : الَذِيْنَ اَتَيْنَا هُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَُه حَقَّ تِلاَوَتِهِ (اي يقرؤنه حق قراءته. صفوة التفاسر) “Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya” Dalam hal ini Imam Ibnu Jazari mengatakan : وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لازِمٌ – مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ القُرْآنَ آ ِثمٌ “ Menggunakan atau mengamalkan Ilmu tajwid adalah merupakan suatu keharusan, maka barang siapa yang tidak memperbaiaki bacaan Al Qur a nya dia termasuk berdosa”. D. Qiro’ah Seperti apa yang kita baca dan yang pernah kita dengar, bahwa Qiroah (bacaan) ayat-ayat Al Quran yang berlaku di negara Indonesia adalah Qiro’ah yang diriwayatkan oleh Hafs bin Sulaiman bin Mughiroh bin Abi Najwad “ Wafat tahun 128 H”, yang bacaannya disebut Qiroah Masyhuroh. Perlu diketahui bahwa selain qiroah yang diriwayatkan oleh Imam Hafs an Ashim masih banyak lagi Imam yang meriwayatkan bacaan-bacaan Al Qur an. Dibawah ini nama-nama Imam yang meriwayatkan Qiroah sab’ah (Qiro’ah tujuh imam ) : 1. Nafi’ bin Abi Nu’aim berasal dari Asfihan, lahir pada 70 H dan wafat di Madinah pada akhir masa pemerintahan Al Mahdi tahun 169 H. Murid-murid/perawi yang masyhur adalah Abu Musa Isa bin Mina-Qolun (wafat 150 H) dan Abu Said Utsman bin Said Al Mishri-Warosy (wafat 197 H) 2. Abu Ma’bad Abdullah bin Katsir al Makki, berasal dari keturunan Persia di lahir di Makkah pada 45 H pada masa kekhalifahan Muawwiyah, wafat di Makkah tahun 120 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abul Hasan Ahmad bin Muhammad Al Bazzi dan Abu Umar Muhammad – Qunbul. 3. Abu Amr Zabban bin Al A’la al Bashri, lahir di Makkah pada tahun 68 H dimasa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, wafat di Kufah pada tahun 154 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Umar Hafs bin Umar Ad Dury (150 H –246 H), Abu Syu’aib Saleh bin Ziyad Al Susi (173 H-261 H). 4. Abu Imron Abdullah bin Amir Al Dimisyky (Syam) pada tahun 28 H-118 H. Perowi-perowinya yang terkenal (masyhur) adalah seperti Abu Al Walid Hisyam bin Ammar (153 H-245 H) dan Abu Amr Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzaqwan (173 – 242 H) 5. Abu Bakar ‘Ashim bin Abi An Najud Al Kufy wafat di Kufah pada tahun 127 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Bakar bin ‘Ayyasyi Al Kufy (95 – 193 H) dan Abu Umar Hafash bin Sulaiman (90 –180 H) 6. Abu ‘Imarah Hamzah bin Hubaib Al Ziyad Al kufy (80-156 H). Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam Al Bazar (150 –229 H) dan Abu ‘Isa Khollad bin Khalid Al Kufy wafat 220 H. 7. Abdul Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah Al Kisa’i berasal dari kebangsaan Persia , wafat di Basrah pada tahun 189 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abdul Harits Al Laits bin Khalid wafat 240 H dan Abu Umar Ad Dury. E. Methode Membaca Al Qur an Perlu diingat bagi para Qori’, bahwa didalam membaca Ayat-ayat Al Qur an itu sendiri ada tata caranya (ukuran lambat dan cepat dalam membaca ayat Al Qur an) yang disahkan oleh Rasulullah SAW., begitu juga yang diberlakukan dikalangan para Ahlul Qurro’ wal Ada’ ada empat yaitu : 1. Tahqiq ( تحقيق ) : Membaca Al Qur an dengan menempatkan hak-hak huruf yang sesungguhnya. Yaitu menempatkan makhrorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahlul Qurro’. Methode ini baik sekali untuk kalangan Mubtadiin (pemula). 2. Tartil (ترتيل ) : Membaca Al Qur an dengan pelan-pelan dan tanpa tergesa-gesa dengan memperhatikan makhrorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan, sehingga suara bacaan menjadi jelas. Seperti bacaan Mahmud Al Qushairi. Bacaan Tartil belum tentu tahqiq akan tetapi tahqiq sudah pasti tartil. 3. Tadwir ( تد وير) : Membaca Al Qur an antara bacaan yang cepat dengan bacaan yang pelan (sedang). 4. Hadr ( حد ر ) : Membaca Al Qur an dengan sangat cepat , sehingga seakan-akan tidak jelas dalam suaranya. Demikianlah beberapa methode membaca Al Qur an yang ada, dari masing masing methode harus menggunakan kaidah-kaidah Tajwid yang berlaku (ketika seorang Qori’ membaca lambat atau cepat), sehingga kesempurnaan bacaan masih tetap dan utuh. Sedangkan cara membaca yang terbaik adalah dengan methode yang kedua yaitu tartil.





