Flickr

Diberdayakan oleh Blogger.

ShoutMix chat widget

Anda berminat buat Buku Tamu seperti ini?
Klik di sini
RSS

Hukum Membaca Lam Jalalah dan Ro’
A. Lam Jalalah
Menurut Imam Hafs, semua lam yang ada didalam Al Qur an adalah dibaca tarqiq atau tipis kecuali lam yang terdapat dalam lafadh Allah (lafdhul jalalah) harus dibaca dengan taghlidh (berat atau tebal).
Adapun tebalnya lam pada lafdhul jalalah itu terbatas yakni, ketika lafadh Allah itu jatuh setelah harokat fathah atau dhommah. Alasan dibaca tebal adalah menandakan akan keagungan dzat Allah.
Contoh. وَاللّهُ سَمِيْعٌ , يَوْمَ يَجْمَعُ اللّه
Sedangkan apabila lafadh Allah jatuh setelah harokat kasroh tetap dibaca tarqiq atau tipis. Alasannya adalah karena sulit untuk diucapkan.
Contoh : ولِلّهِ, أمِ اللّهِ
Sedangkan ukuran getarannya ro’ adalah dua getaran.

B. Hukum Membaca Ro’
Hukum membaca ro’ itu ada dua yaitu :
1. Tafkhimur Ro’
Ro’ yang dibaca tebal yaitu ketika mengucapkan huruf ro’ tersebut, maka bibir yang bawah terangkat naik. Sedangkan ukuran getaran ro’ paling banyak adalah dua getaran atau boleh kurang dari dua getaran dan tidak boleh lebih dari dua getaran. Tidak ada ukuran minimal dan maksimal getaran tersebut.
Adapun ciri-ciri ro’ yang dibaca tebal adalah sebagai berikut :
a. Ro’ yang berharokat fathah atau dhommah. Contoh : رَحْمَةٌ, رُبَمَا
b. Ro’ mati jatuh setelah harokat fathah atau dhommah (baik ro’ sukun asli atau karena waqof). Contoh : يَرْزُقُ, يُرْزَقُون
c. Ro’ mati jatuh setelah harokat kasroh dan bertemu dengan huruf isti’la’ dalam satu kalimat. Jumlah hurufnya ada tujuh yaitu yang terkumpul dalam lafadh خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ .
Contoh: لبِالمِرْ صَادِ , مِنْ كلِّ فِرْ قَةٍ ,
Keterangan :
Tetapi jika ro’ mati jatuh setelah kasroh dan meskipun bertemu dengan huruf isti’la’, tetapi tidak dalam satu kalimat, maka ro’ tetap dibaca tipis.
Contoh : فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا
d. Ro’ mati didahului oleh hamzah washol.
Contoh : اِرْ جِعىِ, الذىارْ تَضىَ
2. Tarqiqur Ro’
a. Semua ro’ yang berharokat kasroh, baik diawal kalimat, tengah kalimat atau akhir kalimat. Semua itu baik dalam kalimat isim atau kalilmat fi’il. Contoh : كَافِرِيْنَ , أرِنَا الّذين
b. Ro’ mati jatuh setelah harokat kasroh asli dan sambung sekaligus tidak bertemu dengan salah satu huruf Isti’la’ dalam satu kalimat. Contoh : وقَالَ فِرْعَوْنُ, واصْطَبِرْ
c. Semua ro’ yang mati tidak asli (karena waqof) baik ro’ berharokat fathah, dhommah atau kasroh dan selama ro’ tidak jatuh setelah harokat fathah atau dhommah.
Contoh. السّحْرُ, السَّرَا ئِرْ
d. Ro’ mati jatuh setelah harokat kasroh meski bertemu dengan huruf isti’la’ tetapi tidak dalam satu kalimat.
Contoh : ولاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ
e. Ro’ mati sebab waqof dan didahului oleh ya’ mati.
Contoh : خَيْرٌ, خَبِيْرٌ
Keterangan :
Ro’ yang dibaca tipis yaitu ketika mengucapkan huruf ro’ bibir mengarah kebawah.
3. Ro’ yang boleh dibaca dengan dua cara.
a. Ro’ sukun karena waqof dan jatuh setelah kasroh yang terpisah dengan huruf isti’la’ yaitu pada lafadh عَيْنَ القِطْرِ dan .مِصْرَ Sedangkan cara yang baik membacanya adalah, untuk lafadh مِصْرَ dibaca tebal ketika washol. Sedangkan lafadh عَيْنَ القِطْرِ dibaca tipis ketika diwasholkan, sebab berharokat kasroh.
b. Lafadh كُلُّ فِرْ قٍdibaca tebal karena ro’ sukun dan bertemu dengan huruf isti’la’. Dan dibaca tipis karena huruf isti’la’ (qofnya) berharokat kasroh.
4. Ro’ yang bertasydid
a. Jika ada ro’ bertasydid dan berharokat fathah arau dhommah, maka dibaca tafkhim – tebal- (kira-kira paling banyak dua getaran). Contoh : بسْمِ اللّه الرّحمن الرّحيم
b. Ro’ dibaca tarqiq -tipis- apabila ro’ bertasydid dan berharokat kasroh. Contoh. الرِّ جَالُ

5. Ringkasan dan pengecualian
Ro’ sukun jatuh setelah harokat kasroh yang wajib dibaca tafkhim (tebal), hal ini disebabkan karena ro’ tersebut bertemu dengan huruf isti’la’. Didalam Al Qur an hanya terdapat pada lima tempat :
اية سورة جزء كلمة نمر
7 الانعام 7 قِرْطَاسٌ 1
107 التوبة 11 اِرْصَادًا 2
122 التوبة 11 مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ 3
21 النبأ 30 مِرْصَادًا 4
14 الفجر 30 لَبِالْمِرْصَادِ 5
Ro’ sukun jatuh setelah harokat kasroh yang wajib dibaca tafkhim (tebal), hal ini disebabkan karena ro’ tersebut jatuh setelah hamzah washol. Banyak sekali terdapat didalam Al Qur an, contoh :

اية سورة جزء كلمة نمر
106 المائدة 7 اِنِ ارْتَبْتُمْ 1
24 الاسراء 15 رَبِّ ارْحَمْهُمَا 2
28 الانبياء 17 لِمَنِ ارْتَضَى 3
77 الحج 17 اِرْكَعُوْا واسجدوا 4
50 النور 18 امِ ارْتَابُوْا 5

Selengkapnya ..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hukum Mim Mati, Ghunnah, Idghom, Qolqolah, Lam Mati dan Al Ta’rif 
A. Mim Mati Apabila ada mim yang mati dan bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah, maka akan mempunyai tiga hukum bacaan yaitu : 1. Idghom Mimy 2. Ikhfa’ Syafawi 3. Idhar Syafawi a. Idghom Mimy Apabila ada mim yang mati bertemu dengan huruf م Cara membacanya : mim pertama yang mati dimasukkan pada mim yang kedua dengan disertai suara dengung (ghunnah). Dinamakan mimy karena masuknya mim sukun pada mim. Idghom ini juga dinamakan idghom mutamatsilain “dua huruf yang sama”. Contoh: ولَكُمْ مَا فِى الأَرْضِ ,لهَمُْ مَا يَشَاءُ b. Ikhfa’ Syafawi Apabila ada mim mati yang bertemu dengan huruf ب . Contoh : وَ هُمْ بِا الأ خِرَةِ , Cara membaca atau melafadhkannya, sewaktu mendengungkan mim sukun sudah menempati makhrojnya huruf ba’. Keterangan : Dinamakan syafawi karena tempat keluarnya huruf ba’ dan mim itu adalah pada dua bibir. c. Idhar Syafawi Apabila ada mim yang mati bertemu dengan semua huruf Hijaiyyah selain huruf idghom mimy dan ikhfa’ syafawi (mim dan ba’), baik dalam satu kalimat atau dilain kalimat. Cara membacanya, mim yang mati harus dibaca dengan suara jelas atau terang terutama huruf itu adalah fa’ dan wawu sebab kedua huruf itu tempat keluarnya sama-sama berada dibibir. Contoh : هُمْ فِيْهَا خَا ِلدُ وْنَ B. Hukum Mim dan Nun yang Bertasydid (ghunnah) Apabila ada huruf mim dan nun yang bertasydid maka hukum bacaannya disebut ghunnah. Adapun tempat keluarnya ghunnah adalah pada janur hidung, sedangkan lamanya bacaan ghunnah adalah 1 alif atau 2 harokat membacanya harus dibaca dengan suara dengung. Contoh :بِرَ بِّ النَّا سِ , ثمّ , ِإنّّ Keterangan : Enam bacaan yang di dalamnya terdapat bacaan ghunnah (dengung) yaitu: idghom bighunnah, iqlab, ikhfa’ haqiqi, ikhfa’ syafawy, idghom mimy, mim atau nun yang bertasydid. C. Idghom a. Definisi Idghom Idghom menurut bahasa/etimologi adalah memasukkan sesuatu pada sesuatu Idhghom menurut istilah/terminologi adalah bercampurnya dua huruf yang sama (yang pertama mati / sukun yang kedua hidup), baik huruf itu semisal, sejenis atau berdekatan makhorijul huruf dan sifatnya sehingga kedua huruf tersebut seperti satu huruf yang bertasydid. b. Pembagian Idghom Menurut ittifaq ulama Qurro’, idghom ini (idghomnya semua huruf Hijaiyyah yang dilihat dari makhraj dan sifatnya huruf) dibagi menjadi tiga yaitu: 1. Idghom Mutamatsilain 2. Idghom Mutaqoribain 3. Idghom Mutajanisain 1. Idghom Mutamatsilain Yaitu apabila ada dua huruf yang sama baik makhroj dan sifatnya seperti ba’ mati bertemu dengan ba’ atau dal mati bertemu dengan dal, maka harus diidghomkan menurut kesepakatan ulama’ Qurro’, baik bertemunya dalam satu kalimat atau lain kalimat. Contoh : َيغْتَبْ بَعْضُكُمْ , يُوَجِّهْهُ Yang demikian itu terkecuali huruf mad yaitu ya’ mati bertemu dengan ya’ jatuh setelah kasroh dan wawu mati jatuh setelah dhommah bertemu dengan wawu, sebagaimana kesepatan ulama qurro’. Hal ini dikarenakan agar sifat huruf mad itu masih tetap dan tidak hilang. Contoh : ِفىْ يَوْ مٍ , قَالُوْا وَهُمْ 2. Idghom Mutajanisain Apabila ada dua huruf yang sama makhrojnya akan tetapi berbeda sifatnya. Seperti dal bertemu ta’, ta’ bertemu dal dan sebagainya. Contoh : َيلْهَثْ ذّالِكَ , قَدْ تَّبَيّنَ , اَ ثْقَلَتْ دَّعَوَالله Adapun kalimat ِاِرْكبْ مَّعَنَاmenurut Imam Hafs ‘an ‘Ashim cara membacanya harus diidghomkan dan disertai dengan dengung, sedangkan lafadh َبسَطْتَ dibaca dengan Idghom Naqish. Yaitu sifat huruf tho’ (Isti’la’) masih tetap tampak. 3. Idghom Mutaqoribain Apabila ada dua huruf yang berdekatan baik makhrojnya maupun sifatnya . Contoh : قُلْ رَّبِّ , اَلمْ نخْلُقْكُمْ Keterangan : 1. Semua bacaan idghom sebagaimana tersebut diatas dengan riwayat Hafs ‘an Ashim, huruf yang di idghomkan harus huruf yang sukun disebut idghom shoghir. Maka apabila huruf yang di idghomkan adalah huruf yang hidup disebut idghom kabir Contoh : كَيْفَ فَعَلَ ، فِيْهِ هُدًى ، فَعَلَ رَبُّكَ dan semua idghom kabir Imam Hafs ‘an Ashim tidak ikut membacanya. 2. Menurut Imam Hafs ‘an Ashim sebagaimana disebutkan pada kitab Jazariyah, bahwa apabila semua huruf yang diidghomkan terdiri dari huruf isti’la’ (خص ضغط قظ) maka harus dibaca idghom Naqis. Contoh : نَخْلُقْكُمْ ، بَسَطْتَ 3. Idghom mutajanitsain / mutamatsilain / mutaqoribain, apabila mudghomnya huruf dal, maka hanya masuk pada huruf dal atau ta’. Contoh : لَقَدْ دَخَلُ ، أَبَدْ تُمْ ْD. Qolqolah Qolqolah menurut etimologi berarti mengguncang atau memantulkan, sedang menurut terminologi adalah memantulkan bunyi huruf qolqolah ketika mati. Hurufnya ada 5 yaitu : ق ط ب ج د Qolqolah dibagi menjadi dua yaitu: 1. Qolqolah kubro, yaitu apabila ada salah satu huruf qolqolah yang dibaca sukun karena waqof. Contoh: عَذَابٌ dibaca عَذَابْ 2. Qolqolah Shughro, yaitu apabila ada salah satu huruf qolqolah yang berharokat sukun asli (bukan karena waqof). Contoh : يَقْطَعُوْنَ , يَجْعَلُوْنَ , يَدْعُوْنَ Keterangan : Dinamakan sughro karena pantulannya pelan atau lebih kecil. E. Cara Membaca Lam Mati a. Apabila ada lam mati bertemu dengan huruf ro’ atau lam, baik berupa kalimat fi’il (fi’il madhi atau fi’il amar) atau kalimat huruf, maka wajib diidghomkan. Contoh Fi’il Amar Kalimat Huruf قُلْ رَبِّ هلْ لَكُمْ بَلْ رَفَعَ Kecuali kalimat بلْ سكتة ران (bahkan berkata) menurut Imam Hafs ‘an ‘Ashim dibaca saktah (berhenti sejenak tanpa nafas) yaitu terdapat pada surat Al Muthoffifin ayat 14. Agar tidak meyerupai dengan lafadh برّ ا ن (dua orang yang baik). b. Apabila terdapat lam mati baik dalam kalimat isim, kalimat huruf atau kalimat fi’il, maka harus diidharkan. Contoh Huruf Isim Fi’il هلْ يستطيع سلْطا نٌ ِالْتَقَى يَلْتَقِي بلْ طبع الله اَلْوَانِكُمْ جَعَلْنَا ضَلَلْنَا سَلْسَبيلاً قلْ نَعَمْ قلْ جَاء الحق F. Alif dan Lam ( ال تعريف) Alif dan lam (al ma’rifah) yang sambung dengan kalimat isim, maka akan menimbulkan dua bacaan yaitu: 1. Idhar Qomariyah Apabila ada al Ta’rif (hamzahnya washol) yang sambung dengan huruf qomariyah yang terkumpul dalam : أَ ْبغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَهُ, maka cara membacanya yaitu lam dibaca dengan jelas atau terang. Contoh. الحَمدُ , الكافرون , الأنعام 2. Idghom Syamsiyah Apabila terdapat al ta’rif yang sambung dengan huruf syamsiyah yang terkumpul dalam : طِبْ ثُمَّ صِلْ رَحِمًا تَفَزَّ ضف ذَا ِنعَمٍ دَعْ سُوْءَ ظَنٍّ زُرْشَرِيْفَا لِلْكِرَامِ Cara membacanya yaitu apabila ada huruf al ta’rif bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah, maka huruf-huruf tersebut harus dibaca dengan tasydid. Contoh. الرَّحِيْمُ, الصَّا لِحُوْنَ, السَّارِقُ Keterangan : Adapun lafadh وَالْتَفَّتْ tidak boleh dibaca idghom syamsiyah, karena al tersebut bukan Al ta’rif. Begitu juga lafadh اَلْهيَكُمُ التَّكاثُرُ maka apabila disambung dengan basmalah hamzahnya اَلْهيَكُمُ tetap dibaca, karena hamzah qotho’.

Selengkapnya ..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS